kabarfaktual.com – Facebook Marketplace terus menjadi salah satu platform jual beli daring yang digemari masyarakat Indonesia berkat kemudahan penggunaan dan banyaknya pilihan barang dengan harga menarik. Namun di balik popularitas tersebut, berbagai modus penipuan kian marak terjadi dan menimbulkan banyak korban, mulai dari kerugian materi hingga pencurian data pribadi.

Beragam skema penipuan dilaporkan terjadi, seperti penjual fiktif, barang tidak sesuai deskripsi, hingga bukti transfer palsu dari pembeli. Jika tidak berhati-hati, pengguna bisa kehilangan uang maupun akses akun Facebook mereka.

Penipuan Voucher Digital dan Transfer Palsu

Salah satu modus yang paling banyak dilaporkan adalah pembayaran menggunakan gift card atau voucher digital, seperti Google Play Gift Card, Steam Wallet, maupun saldo e-wallet. Penipu meminta pembeli mengirim kode voucher sebagai metode pembayaran, lalu menghilang setelah menerima kode tersebut.

Selain itu, bukti transfer palsu juga sering digunakan. Pelaku mengirimkan screenshot transfer bank atau e-wallet yang tampak meyakinkan agar korban segera mengirim barang, padahal uang belum benar-benar masuk.

Pakar keamanan digital mengimbau pengguna untuk tidak melakukan pembayaran di luar sistem resmi Facebook dan menghindari pengiriman voucher digital. Transaksi lebih aman dilakukan melalui fitur pembayaran resmi atau COD di lokasi yang aman.

Modus Overpayment dan Kelebihan Transfer

Modus “overpayment” juga kian marak. Pelaku berpura-pura mentransfer jumlah yang lebih besar dari harga barang, lalu meminta korban mengembalikan selisihnya. Setelah uang dikirim, transfer awal dibatalkan atau ternyata menggunakan bukti palsu. Korban pun kehilangan uang dua kali lipat.

Pengguna disarankan selalu memeriksa saldo di rekening atau aplikasi mobile banking sebelum mengirim barang atau mengembalikan kelebihan dana.

Penipuan Barang dan Pengiriman

Banyak pengguna Facebook Marketplace mengaku menerima barang yang berbeda dari foto, rusak, bahkan hanya kotak kosong. Penipu biasanya memasang harga miring untuk menarik korban dan menolak bertemu langsung.

Modus lain adalah penggunaan resi palsu yang memungkinkan pelaku mengalihkan paket ke alamat lain. Setelah barang dikirim, akun penipu langsung hilang.

Pihak keamanan daring menyarankan transaksi dilakukan secara COD atau menggunakan ekspedisi resmi dengan nomor resi yang dapat dilacak.

Properti, Kendaraan, dan Barang Palsu

Penipuan properti dan kendaraan juga marak terjadi, terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Pelaku memasang iklan sewa rumah atau kos fiktif, kemudian meminta uang muka sebelum calon penyewa melihat unit. Setelah dana dikirim, iklan dihapus.

Di sektor kendaraan, banyak penjual menawarkan mobil atau motor bekas di bawah harga pasar dengan alasan “butuh uang cepat”. Foto kendaraan sering kali bukan milik pelaku, bahkan beberapa dilengkapi dokumen palsu.

Selain itu, barang KW seperti ponsel, tas, atau sepatu juga sering dipasarkan sebagai produk “100% original”.

Masyarakat diimbau untuk selalu mengecek barang atau properti secara langsung, memverifikasi dokumen kendaraan di Samsat, serta waspada terhadap harga yang terlalu murah.

Phishing, Giveaway Palsu, dan Bot Otomatis

Serangan phishing juga meningkat. Pelaku mengirim tautan palsu melalui Messenger atau WhatsApp dengan dalih verifikasi transaksi. Jika diklik, pengguna diarahkan ke situs palsu yang meniru tampilan Facebook atau bank untuk mencuri akun dan data pribadi.

Modus giveaway palsu juga semakin banyak, meminta korban mengisi data atau membayar biaya administrasi kecil untuk hadiah yang tidak pernah ada.

Akun bot otomatis turut menyebar, biasanya mengirim pesan singkat seperti “Masih ada, Kak?” untuk memancing pengguna mengklik tautan berbahaya.

Ahli keamanan digital menegaskan agar pengguna tidak pernah membagikan kode OTP, tidak mengklik tautan mencurigakan, dan memastikan komunikasi dilakukan melalui Messenger resmi.

Dengan meningkatnya aktivitas jual beli online, masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap berbagai jenis penipuan yang muncul. Pemerintah dan pakar keamanan siber juga mengingatkan pentingnya literasi digital dan verifikasi sebelum melakukan transaksi daring.