kabarfaktual.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut memiliki kepentingan strategis besar di balik operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya pada akhir pekan lalu. Tuduhan ini disampaikan oleh Anggota Kongres Partai Demokrat dari Massachusetts, Jake Auchincloss, yang menilai alasan resmi Washington pemberantasan narkoba dan terorisme tidak mencerminkan motif sebenarnya.
AS melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela, Caracas, sebelum akhirnya menangkap Maduro atas perintah langsung Presiden Trump. Namun menurut Auchincloss, operasi tersebut lebih didorong oleh ambisi menguasai sumber daya energi Venezuela ketimbang upaya penegakan hukum internasional.
“Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba,” ujar Auchincloss kepada media pada Sabtu (3/1).
Ia menegaskan bahwa Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sebuah fakta yang menurutnya selalu menjadi inti kepentingan geopolitik AS di kawasan tersebut.
“Ini selalu tentang satu hal: Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia,” katanya.
Auchincloss juga mempertanyakan narasi perang terhadap narkoba yang digunakan pemerintahan Trump. Menurut dia, sebagian besar kokain dari Amerika Latin justru mengalir ke Eropa, bukan ke Amerika Serikat. Selain itu, kokain bukanlah penyebab utama krisis kematian akibat narkoba di AS.
“Narkoba yang membunuh orang Amerika adalah fentanyl, dan itu berasal dari China,” ujarnya.
Tak lama setelah mengumumkan penangkapan Maduro, Presiden Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menguasai sektor minyak Venezuela. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Trump menyebut perusahaan-perusahaan minyak dan gas AS akan segera masuk dan menanamkan investasi besar-besaran.
“Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat kami yang terbesar di dunia akan masuk ke Venezuela, menggelontorkan investasi miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah,” ujar Trump, seperti dikutip dari CNBC.
“Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” tambahnya.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak sekitar 303 miliar barel, atau setara dengan 17 persen dari total cadangan minyak dunia jumlah yang melampaui Arab Saudi dan Iran. Potensi inilah yang dinilai menjadi daya tarik utama bagi Washington.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela. Pada kuartal keempat 2025, Chevron tercatat mengekspor sekitar 140.000 barel minyak per hari dari negara tersebut.
Hubungan Donald Trump dan Nicolás Maduro memang telah lama memburuk sejak periode pertama pemerintahan Trump. Namun ketegangan meningkat drastis sejak September tahun lalu, bertepatan dengan awal periode kedua Trump menjabat sebagai presiden.
Pada saat itu, pasukan AS menyerang sebuah kapal yang mengangkut warga sipil di perairan lepas Venezuela dengan dalih membawa narkoba. Serangan terhadap kapal-kapal di sekitar wilayah tersebut dilaporkan terus berlanjut selama berbulan-bulan.
Selain itu, AS juga mengerahkan pasukan dan persenjataan berat di kawasan Karibia, dekat perbatasan Venezuela. Serangkaian langkah ini memperkuat keyakinan pemerintahan Maduro bahwa tujuan utama Washington bukan sekadar keamanan regional, melainkan upaya menggulingkan kekuasaan dan menguasai sumber daya alam Venezuela.
Penangkapan Maduro kini menempatkan Venezuela dalam babak baru konflik geopolitik, dengan minyak kembali menjadi pusat pertarungan kepentingan global.
Tinggalkan Balasan