China Enggan Turuti Kemauan Trump Terkait Sanksi Korea Utara

Kabar Faktual
INTERNASIONAL – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak China mengenakan sanksi ekonomi kepada Korea Utara demi menjinakkan tetangganya yang terasing dari dunia luar itu.

Lewat cuitan di Twitter, Trump mengaku sangat kecewa kepada China karena tak banyak berbuat dalam menekan Korea Utara.

Dalam pikiran Trump, China adalah faktor kunci yang bisa menghentikan program rusal Korea Utara karena China adalah mitra dagang utama Korea Utara yang mengambil 90 persen dari total perdagangan Korea Utara.

Tetapi China enggan menuruti kemauan Trump karena faktor ekonomi dan politik.

China tak mau memutuskan hubungan ekonomi dengan Korea Utara saat volume perdagangan kedua negara naik sepuluh kali lipat antara 2000 sampai 2015. China juga lebih terikat dengan sebuah pemerintahan komunis Korea Utara ketimbang pemerintahan berideologi lain.

Menurut majalah Forbes, China sebenarnya kerap mengenakan sanksi terpisah kepada Korea Utara, tetapi China tak menganggap diri kunci dalam mengakhiri fantasi nuklir Kim Jong-un.

China malah meminta AS menemui pemimpin Korea Utara itu. “Jika AS dan Korea Utara tak berusaha mengurangi ketegangan dan denuklirisasi maka tak ada yang bisa dilakukan China,” kata duta besar China di PBB seperti dikutip laman Forbes.

Apalagi China sudah menawarkan diri menjadi penengah perundingan yang bertujuan mengakhiri program senjata nuklir Korea Utara dengan imbal balik AS harus mengakhiri latihan militer bersama dengan Korea Selatan. AS enggan menerima proposal China ini.

China bisa saja memutuskan hubungan perdagangan dengan Korea Utara, namun tindakan itu sangat merugikan China. Mengapa?

Andai China turut menerapkan sanksi kepada Korea Utara, maka Korea Utara akan kesulitan mendapatkan sumber daya, barang dan pendapatan yang dibutuhkannya karena volume perdagangan Korea Utara-China menyumbangkan 40 persen dari total PDB Korea Utara.

Jika China ikut-ikutan men-sanksi Korea Utara maka kaum pekerja Korea Utara menghadapi lingkungan sulit dan akhirnya kabur ke China. Kemudian, itu menimbulkan ketidakstabilan sosial dan ekonomi meningkat di Korea Utara yang akhirnya memaksa pemerintah menerapkan tindakan kerasa kepada penduduk. Akibatnya akan menciptakan banjir pendatang gelap Korea Utara ke China.

Lebih dari itu, bisnis UMKM China yang mengekspor ke Korea Utara akan kehilangan pendapatan dan karyawan mereka terancam PHK.

Akibat lebih jauh dari itu adalah China akan terpaksa menyediakan bantuan sosial kepada individu-individu yang kehilangan pekerjaan, selain membantu pendatang-pendatang haram dari Korea Utara.

Pada matra lain, sanksi ekonomi selalu menjadi alat tumpul. Menurut Forbes, kecil kemungkinan sanksi ekonomi akan melunakkan Korea Utara.

“Sejarah membuktikan sanksi perdagangan adalah alat tumpul dalam mendisiplinkan negara jahat. Sanksi ekonomi malah berdampak kepada rakyat sipil, termasuk anak-anak yang paling menderita akibat sanksi, sebaliknya penguasa lalim biasanya menemukan cara berkelit dari pembatasan itu,” tulis Forbes dalam lamannya. (Red)

 

 

Editor: Tobing

Sumber: Antara, Forbes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.