Yaitu meminta kesediaan segera dari Mas Soeharto dan R. Dijar untuk menuntut pihak Jepang supaya menyerahkan kekuasaan PTT secara damai. Sayangnya, pihak Jepang menolak gagasan itu.
Pada 24 September 1945 Soetoko meminta Mas Soeharto dan R. Dijar supaya hari itu juga, menemui pimpinan PTT Jepang, Tuan Osada. Tujuannya untuk berunding dan mendesak agar hari itu juga pihak Jepang menyerahkan Jawatan PTT secara terhormat kepada Bangsa Indonesia.
Perundingan tersebut gagal. Tangggal 26 September 1945 Soetoko memanggil Soewarno dan Nawawi Alif. Keduanya diberi tugas memimpin untuk meruntuhkan tanggul dan mengelilingi kantor.
Untuk menciptakan koordinasi AMPTT dalam perebutan kekuasaan Jawatan PTT dari tangan Jepang, maka ditetapkan Soetoko sebagai ketua. Soetoko dibantu oleh tiga wakil ketua yang terdiri dari Nawawi Alif, Hasan Zein dan Abdoel Djabar.
Soetoko juga memberitahu Mas Soeharto terkait rencana perjuangan AMPTT yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 September 1945. Malam itu juga segenap anggota AMPTT disebar untuk mencari dan mengumpulkan senjata tajam, kendaraan bermotor, senjata api dan kebutuhan lainnya.
Tinggalkan Balasan