kabarfaktual.com, Agustus 2026 — Sertifikasi sistem manajemen semakin banyak digunakan perusahaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas tata kelola, mengendalikan risiko, dan memenuhi tuntutan pelanggan maupun mitra bisnis. Perkembangan tersebut mendorong perubahan cara perusahaan memandang sertifikasi, dari sekadar pemenuhan administratif menjadi bagian dari pembangunan sistem kerja yang lebih terukur.
Melihat perubahan kebutuhan tersebut, PT Giatt Internasional Certification (GIC) mendorong perusahaan agar menempatkan sertifikasi sebagai bagian dari proses perbaikan organisasi, bukan sekadar pencapaian dokumen.
GIC merupakan independent certification body yang beroperasi mengacu pada ISO/IEC 17021-1 dan menyediakan layanan sertifikasi sistem manajemen, sertifikasi kompetensi, serta pelatihan bagi profesional.
Founder GIC, Gemilang Pranoto, mengatakan bahwa nilai sertifikasi seharusnya tidak hanya dilihat dari keberadaan sertifikat, tetapi dari proses dan sistem yang dibangun organisasi untuk memenuhi standar yang dipersyaratkan.
“Jangan sampai sertifikasi hanya menjadi dokumen yang dibutuhkan ketika ada tender atau persyaratan pelanggan. Nilai sebenarnya ada pada bagaimana standar tersebut membantu perusahaan membangun proses yang lebih baik, konsisten, dan dapat dievaluasi,” ujar Gemilang Pranoto.
Menurut Gemilang, perusahaan saat ini menghadapi lingkungan bisnis yang semakin menuntut adanya bukti mengenai kualitas proses, pengelolaan risiko, keamanan informasi, keselamatan kerja, hingga tanggung jawab lingkungan.
Dalam kondisi tersebut, penerapan standar sistem manajemen dapat menjadi salah satu instrumen bagi organisasi untuk membangun proses internal yang lebih terstruktur sekaligus menunjukkan keseriusan perusahaan kepada pihak eksternal.
Mendorong Budaya Perbaikan, Bukan Sekadar Mendapatkan Sertifikat
GIC melihat bahwa tantangan dalam sertifikasi bukan hanya bagaimana perusahaan memperoleh sertifikat, tetapi bagaimana sistem yang telah dibangun tetap dijalankan dan dikembangkan setelah proses sertifikasi selesai.
Karena itu, pendekatan terhadap sertifikasi perlu diarahkan pada pemahaman terhadap proses bisnis dan kebutuhan organisasi. Audit dan evaluasi menjadi bagian dari proses untuk melihat sejauh mana sistem yang diterapkan benar-benar berjalan.
“Tujuan akhirnya bukan hanya perusahaan mendapatkan sertifikat. Yang lebih penting adalah perusahaan memiliki sistem yang bisa digunakan dan terus diperbaiki. Sertifikasi seharusnya menjadi bagian dari perjalanan organisasi, bukan garis akhir,” kata Gemilang.
GIC menyediakan berbagai skema sertifikasi sistem manajemen, antara lain ISO 9001 untuk manajemen mutu, ISO 14001 untuk manajemen lingkungan, ISO 45001 untuk keselamatan dan kesehatan kerja, ISO/IEC 27001 untuk keamanan informasi, ISO 22000 dan HACCP untuk keamanan pangan, ISO 37001 untuk sistem manajemen anti-penyuapan, ISO 13485 untuk perangkat medis, serta ISO 50001 untuk manajemen energi.
Selain sertifikasi organisasi, GIC juga menyediakan sertifikasi personel dan program pelatihan bagi profesional. Layanan tersebut mencakup ISO Awareness, Internal Auditor, persiapan Lead Auditor, HACCP, serta pelatihan in-house.
Kebutuhan SDM Kompeten Ikut Meningkat
Perubahan kebutuhan perusahaan terhadap sistem manajemen juga beriringan dengan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memahami standar dan mampu menerapkannya dalam aktivitas organisasi.
Menurut GIC, keberhasilan penerapan sistem manajemen tidak hanya ditentukan oleh kebijakan perusahaan, tetapi juga oleh kompetensi orang-orang yang menjalankan dan mengevaluasi sistem tersebut.
Karena itu, pengembangan kompetensi profesional menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan perusahaan. Pelatihan dan sertifikasi personel dapat membantu meningkatkan pemahaman terhadap standar sekaligus mendukung organisasi dalam menjalankan sistem secara konsisten.
“Standar yang bagus tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa orang yang memahami cara menerapkannya. Karena itu, kami melihat sertifikasi organisasi dan pengembangan kompetensi profesional sebagai dua hal yang saling berkaitan,” ujar Gemilang.
Transparansi sebagai Bagian dari Kredibilitas
GIC juga menyediakan sistem verifikasi sertifikat yang dapat digunakan masyarakat maupun pihak berkepentingan untuk melakukan pengecekan berdasarkan nomor sertifikat atau nama perusahaan.
Fitur tersebut menjadi bagian dari upaya GIC menjaga transparansi dan memberikan akses terhadap informasi sertifikasi yang dapat diverifikasi.
GIC resmi beroperasi pada 2026 sebagai independent certification body yang mengacu pada ISO/IEC 17021-1. Sejak awal pendirian, perusahaan menempatkan prinsip independensi, objektivitas, dan transparansi sebagai bagian dari penyelenggaraan layanan sertifikasi.
Gemilang mengatakan bahwa perkembangan dunia usaha ke depan akan membuat perusahaan semakin dituntut untuk memiliki sistem yang tidak hanya terlihat baik di atas dokumen, tetapi juga dapat dibuktikan dalam praktik.
“Pada akhirnya, sertifikasi harus memberikan manfaat nyata bagi organisasi. Kalau sistemnya berjalan, orang-orangnya kompeten, prosesnya dievaluasi, dan hasilnya bisa dipertanggungjawabkan, maka sertifikasi memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar selembar dokumen,” tutup Gemilang.
GIC saat ini melayani kebutuhan sertifikasi sistem manajemen, sertifikasi personel, dan pelatihan bagi organisasi maupun profesional. Informasi mengenai layanan dan proses sertifikasi tersedia melalui situs resmi GIC di giatt.id.

