kabarfaktual.com – Sebanyak tiga ruas jalan yang amblas akibat banjir pada November 2025 lalu hingga Minggu (1/2/2026) belum juga diperbaiki. Ketiga ruas jalan tersebut berada di Desa Lhok Cut Riseh Tengoh, Desa Sawang, dan Desa Kubu, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Jalan yang merupakan akses utama penghubung antar desa itu berada di daerah aliran sungai (DAS) Sawang. Akibatnya, sebagian badan jalan kini telah berubah fungsi menjadi alur sungai setelah tergerus banjir.
Warga Desa Riseh Tengoh, Kecamatan Sawang, Sarifuddin (45), mengatakan kondisi tersebut sangat membahayakan, terutama bagi anak-anak sekolah dan warga yang beraktivitas setiap hari. Menurutnya, jalan lama tidak lagi layak dipertahankan karena posisinya sudah berada di badan sungai.
“Sekarang kalau anak-anak sekolah dan warga melintas ya di badan sungai. Itu tidak akan mungkin bisa tahan lama, begitu banjir lagi, jalan itu akan hilang terbawa banjir,” kata Sarifuddin kepada media, Minggu (1/2/2026).
Ia meminta pemerintah membangun jalan baru yang lokasinya tidak berada di pinggiran sungai agar dapat digunakan dalam jangka panjang oleh masyarakat pedalaman Aceh Utara.
“Kalau bisa jalan digeser jauh dari sungai. Memang butuh biaya besar, namun bisa digunakan ratusan tahun ke depan. Kalau di pinggir sungai lagi, begitu banjir, amblas lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Mazinuddin, menyampaikan bahwa hingga saat ini baru satu ruas jalan yang telah mendapatkan penanganan darurat. Ruas tersebut menghubungkan Desa Riseh Baroh dan Riseh Tunong sepanjang sekitar tiga kilometer dan diperbaiki oleh PT Adhi Karya.
“Penanganan tersebut sifatnya sementara dan masih membutuhkan penanganan lanjutan,” kata Mazinuddin.
Ia menjelaskan, dua ruas jalan lainnya hingga kini belum tersentuh perbaikan. Pihak kecamatan telah mengusulkan perbaikan jalan tersebut dalam tahap pertama penanganan pascabanjir agar akses warga dari desa menuju pusat kota kembali normal.
“Ruas jalan lainnya belum diperbaiki. Kita sudah usulkan untuk diperbaiki tahap satu penanganan pascabanjir, sehingga warga bisa lalu lalang dari desa ke pusat kota,” ujarnya.
Mazinuddin berharap, pembangunan jalan dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh ke depan memperhatikan aspek tata ruang, khususnya dengan menghindari pembangunan jalan di bantaran sungai.
“Kita minta jalannya kalau bisa dibuat baru, bergeser dari jalan dasar, karena sebagian besar jalan itu berada di pinggir sungai. Kalau digeser agak jauh dari sungai pasti lebih bermanfaat dan jauh dari banjir,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan