“Dunia mengharapkan kita dan pangan Indonesia harus menjadi sesuatu yang berarti. Karena itu, yang pertama mitigasi tantanganmu, kedua adaptasi, dan yang ketiga adalah hadapi tantangan ini secara bersama-sama,” imbuh Syahrul.

Secara terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menjelaskan bahwa Sarasehan Petani Millenial merupakan salah upaya resonansi regenerasi petani serta wirausaha muda di sektor pertanian dalam mendukung antisipasi krisis pangan global.

“Tujuan dari kegiatan Sarasehan Petani Milenial adalah menumbuhkan peran aktif petani milenial, petani dan penyuluh dan P4S dalam peningkatan produksi dan daya saing produk pertanian, pengembangan ekosistem kewirausahaan pertanian, membangun jejaring petani milenial antar wilayah, serta sebagai upaya antisipasi krisis pangan global”, tegas Dedi.

Ditemu disela-sela rangkaian acara Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Idha Widi Arsanti menuturkan pertemuan Sarasehan Petani Milenial yang kedua pada Tahun 2022 akan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, yaitu 6 Oktober sampai dengan 8 Oktober 2022 ini menghadirkan Petani Milenial dari wilayah Bali, Sulawesi, NTB, NTT, Maluku, Papua dan Papua Barat.