KTT G20 Bali Hasilkan Deklarasi Tolak Senjata Nuklir

DENPASAR – KTT G20 Bali memuat seruan penolakan penggunaan senjata nuklir. Para pemimpin G20 juga mendorong penyelesaian setiap konflik lewat jalur damai.

“Penggunaan atau ancaman penggunaan senjata nuklir tidak dapat diterima. Penyelesaian konflik secara damai, upaya mengatasi krisis, serta diplomasi dan dialog, sangat penting. Era ini tidak boleh perang,” demikian penggalan isi poin 4 G20 Bali Leaders’ Declaration seperti dilihat, Kamis (17/11/2022).

Para pemimpin G20 menekankan pentingnya hukum internasional ditegakkan dalam rangka menjaga stabilitas dan perdamaian. Semua pihak diminta menghormati Piagam PBB.

“Ini termasuk membela semua tujuan dan prinsip yang diabadikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mematuhi hukum kemanusiaan internasional, termasuk perlindungan penduduk sipil dan infrastruktur dalam konflik bersenjata,” tulis poin ketiga deklarasi tersebut.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno LP Marsudi mengatakan mengungkapkan proses negosiasi panjang di balik Deklarasi G20 Bali.

“Nah oleh karena kita harus menyepakati semua, maka diperlukan negosiasi yang sangat panjang. Jadi bisa bayangkan bahwa kita melakukan negosiasi sampai beberapa kali putaran, putaran terakhir dilakukan mulai tanggal 10 November sampai 14 November,” kata Retno dalam jumpa pers di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/11).

Baca Juga:   KTT G20, Jokowi Ingatkan Kelangkaan Pupuk Bisa Picu Krisis Pangan Dunia

Retno menjelaskan dalam proses negosiasi itu, pembahasan di tingkat negosiator kadang-kadang mandek. Negosiator selanjutnya menyerahkan mandat itu ke pihak yang lebih tinggi.

“Oleh karena itu dari tanggal 10 sampai 14, saya banyak sekali melakukan komunikasi dengan para menteri luar negeri agar kita dapat menyepakati,” ujar Retno.

Retno menyebutkan pembahasan alot tak hanya terkait perang di Ukraina. Namun, menurut Retno, pembahasan beberapa poin deklarasi lain juga tak mudah disepakati.

“Kalau tadi kita sampaikan bahwa deklarasi atau paragraf mengenai masalah geopolitik atau tepatnya Ukraina sulit, bukan berarti paragraf yang lain mudah. Paragraf yang lain tidak juga mudah. Kalau mudah mungkin negosiasinya sudah selesai dari kapan-kapan,” imbuh Retno.

Di tengah kondisi itu, Retno mengatakan Indonesia diuntungkan karena Indonesia mendapatkan kepercayaan dari semua negara. Keraguan sejumlah pihak soal terwujudnya deklarasi KTT G20 Bali pun terpatahkan.

“Jadi Pak Presiden juga mengatakan bahwa di awal semua orang pesimis, tidak ada yang yakin bahwa deklarasi dapat dihasilkan dan alhamdulillah Indonesia dapat mencapainya,” imbuh Retno.(SW)