kabarfaktual.com – Kasus miopia atau rabun jauh pada anak-anak terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi yang sebelumnya identik dengan usia remaja dan dewasa kini semakin sering ditemukan pada anak usia dini, seiring meningkatnya kebiasaan menatap layar gawai dalam aktivitas sehari-hari.
Chief Operating Officer Mayapada Eye Centre, Navin Nathani, menyebut miopia telah menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, yang menjadi perhatian utama adalah usia penderita miopia yang semakin muda.
“Miopia itu sudah menjadi kenyataan di dunia sekarang. Tapi yang mengkhawatirkan adalah miopia itu tambah muda, anak-anak kecil sudah membutuhkan kacamata,” ujar Navin usai peresmian Mayapada Eye Centre Sudirman, Rabu (28/1/2026).
Seiring meningkatnya kasus miopia pada anak, Orthokeratology atau Ortho-K dikenal sebagai salah satu metode koreksi penglihatan tanpa tindakan operasi. Metode ini menggunakan lensa kontak khusus yang dipakai saat tidur untuk membantu membentuk kembali permukaan kornea secara sementara.
Navin menjelaskan, lensa Ortho-K bekerja saat mata beristirahat di malam hari dan dilepas keesokan paginya. Dengan cara tersebut, anak dapat beraktivitas di siang hari tanpa perlu menggunakan kacamata.
“Caranya menggunakan lensa untuk membentuk bola dan kornea mata, digunakan saat tidur, dan dapat menghilangkan minusnya,” jelas Navin.
Meski Ortho-K kerap dianggap sebagai solusi praktis bagi anak dengan miopia, dokter spesialis mata Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K), mengingatkan bahwa metode ini bukanlah solusi permanen. Menurutnya, Ortho-K dapat digunakan pada anak-anak, termasuk di bawah usia 12 tahun, tetapi sifatnya hanya menahan perkembangan minus.
“Ortho-K anak-anak pun bisa. Tapi itu sifatnya menahan. Ada yang berhasil, ada yang tidak, tergantung kondisi mata anak-anak itu,” ujar dr. Ucok.
Ia menambahkan, efektivitas Ortho-K sangat bergantung pada kondisi mata masing-masing anak serta kedisiplinan dalam pemakaian dan kontrol rutin.
Dr. Ucok menjelaskan bahwa mata anak masih berada dalam fase tumbuh kembang, sehingga penggunaan Ortho-K tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Oleh karena itu, pemantauan secara berkala menjadi hal yang sangat penting.
“Masalah tumbuh kembang tiap anak tidak sama. Itu sebabnya harus kontrol teratur dan siap ganti-ganti Ortho-K,” jelasnya.
Selain faktor pertumbuhan, kebiasaan anak juga memengaruhi hasil penggunaan Ortho-K. Dr. Ucok mengingatkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengurangi efektivitas metode ini.
“Kalau anaknya main handphone terus, akhirnya Ortho-K yang pertama tidak cocok dan harus di-adjusting lagi,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak, para ahli menekankan bahwa penanganan miopia tidak cukup hanya mengandalkan metode koreksi. Pembatasan waktu layar, peningkatan aktivitas luar ruangan, serta pemeriksaan mata secara berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mata anak dalam jangka panjang.
Tinggalkan Balasan