“Untuk melakukan antisipasi terhadap perubahan iklim, kita harus beradaptasi terhadap perubahan iklim, adaptasi terhadap kekeringan atau kemarau panjang, adaptasi terhadap kebanjiran, adaptasi terhadap kenaikan permukaan air laut, adaptasi hama dan penyakit dengan cara mengembangkan dan implementasikan varietas unggulan dan tahan terhadap perubahan iklim,” ujar Dedi.

BPPSDMP Kementan berkomitmen menciptakan pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan melalui kegiatan CSA Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) dengan menerapkan delapan paket teknologi. Pertanian berkelanjutan dipandang FAO sebagai upaya mitigasi penting yang dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (CH4, N2O, dan CO2).

Berdasarkan penelitian FAO, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menyumbangkan emisi gas rumah kaca karena dapat meningkatkan temperatur udara antara 1 hingga 2 derajat celsius.

Paris Agreement Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim menyepakati pengurangan emisi global, oleh karena itu proyek SIMURP pertanian berupaya mengurangi kontribusi sektor pertanian terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca tahun 2021 dengan memfasilitasi kegiatan pengukuran GRK (CH4, N2O, dan CO2) di 8 provinsi, 17 kabupaten, dan 76 BPP dan berdasarkan hasil uji laboratorium Balai Penelitian Lingkungan, Balitbang Pertanian Pati diperoleh hasil penurunan GRK sebesar 38 persen.