Starlink Merambah Indonesia, Operator Seluler Lain Terancam

JAKARTA – Starlink yang sebelumnya menyediakan layanan internet untuk jaringan tertutup atau business to business (B2B), sekarang memperluas pasarnya dengan menyasar pelanggan akhir atau business to consumer (B2C). Bagaimana nasib operator eksisting di Indonesia?

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengungkapkan bahwa Starlink sudah izin untuk beroperasi menyediakan akses internet ke pelanggan akhir di Indonesia.

Direktur Jenderal Penyelenggara Pos dan Informatika (Dirjen PPI) Kementerian Kominfo, Wayan Toni Supriyanto, mengungkapkan ada dua izin yang dikantongi oleh Starlink, yakni VSAT dan Penyelenggara Jasa Internet (ISP).

Namun sebelum menyediakan layanan internet ke masyarakat, Starlink akan melalui pengujian, salah satunya melewati tahap Uji Laik Operasi (ULO) sebelum resmi jualan ke ritel.

“(Berapa lama uji coba) itu kebijakan mereka dengan mungkin kerjasama Menko Marves. Kalau (Kominfo) kita tugasnya cuma keluarkan izin saja, yang jelas sudah comply dengan regulasi,” kata Wayan.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengungkapkan nasib operator eksisting usai kehadiran Starlink ke layanan ritel Indonesia.

Baca Juga:   Investigasi Ungkap 267.368 Perusahaan Tidak Terdaftar di OSS, Berpotensi Rugikan Penerimaan Negara

Budi mengatakan pemerintah menjanjikan akan menjaga bisnis industri telekomunikasi harus adil seiring dengan kedatangan Starlink yang terjun ke sektor ritel.

“Yang jelas bisnisnya harus fair, level playing field-nya harus fair. Semua harus ikuti regulasi yang ada. Nanti kita lihat dinamikanya,” ucap Menkominfo kepada awak media.

Sebagai informasi, Kominfo telah memberikan hak labuh satelit khusus non geostationer (NGSO) Starlink kepada Telkomsat pada pertengahan Juni 2022. Hak labuh tersebut berlaku untuk layanan backhaul dalam penyelenggaraan jaringan tertutup Telkomsat.(SW)