Temuan Penting: Tiga Wilayah Laut sebagai Kunci Prediksi Hujan Ekstrem di Indonesia

Ilustrasi, Temuan Penting: Tiga Wilayah Laut sebagai Kunci Prediksi Hujan Ekstrem di Indonesia (foto canva)
Ilustrasi, Temuan Penting: Tiga Wilayah Laut sebagai Kunci Prediksi Hujan Ekstrem di Indonesia (foto canva)

kabarfaktual.comĀ – Temuan Penting Tiga wilayah laut diidentifikasi sebagai faktor penting yang mempengaruhi kejadian hujan ekstrem di Indonesia, sebuah temuan penting yang diungkapkan oleh Profesor Riset Ilmu Atmosfer, Meteorologi, dan Klimatologi, Erma Yulihastin, dalam orasi ilmiahnya di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Profesor Erma menekankan peranan kritis Laut China Selatan, Samudra Hindia, dan Laut Banda-Maluku dalam memprediksi cuaca ekstrem.

Menurut Erma, ketiga lokasi ini memiliki pengaruh besar terhadap cuaca dan iklim di Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu sistem cuaca paling kompleks di dunia. Beliau menjelaskan bahwa faktor suhu permukaan laut sering terabaikan dalam model prediksi cuaca, yang dapat menyebabkan kesalahan dalam memprediksi awal dan intensitas hujan ekstrem.

Laut China Selatan dan Fenomena CENS

Di Laut China Selatan, fenomena Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) dan Cold Tongue (CT) berperan dalam pembentukan hujan ekstrem. Erma menyebutkan bahwa kombinasi kedua fenomena ini sering menghasilkan hujan ekstrem di dini hari, khususnya di kawasan pesisir utara Jawa.

Baca Juga:   Jangan Sampai Salah, Ini 5 Tips Penting Mengisi Daya Baterai HP Agar Tetap Awet dan Tahan Lama

Samudra Hindia dan Interaksi Atmosferik

Sementara itu, di Samudra Hindia, interaksi antara fenomena badai squall line dan Gelombang Kelvin dapat memicu kondisi cuaca yang ekstrem, berdampak pada hujan badai dan banjir rob yang parah di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jawa dan Bali.

Laut Banda dan Peranannya dalam Pembentukan Fenomena Cuaca Ekstrem

Di Laut Banda, fenomena Mesoscale Convective Complex (MCC) dan siklon tropis seperti Siklon Tropis Seroja telah menjadi penyebab utama cuaca ekstrem, termasuk banjir bandang yang menghancurkan di beberapa daerah di Indonesia.

Profesor Erma menekankan bahwa pemahaman mendalam tentang interaksi antara atmosfer dan laut adalah kunci untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang memicu kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering. Beliau juga menyerukan pembaruan model prediksi cuaca yang memasukkan data suhu permukaan laut secara berkala untuk memperbaiki akurasi prediksi cuaca dan hujan ekstrem.