Satu Kahkonen pun memuji keberhasilan Indonesia dalam mempertahankan ekonomi makro yang stabil.
Tetapi dia juga menekankan, kebijakan makro untuk kedepannya perlu terus dipertahankan untuk menghadapi ketidakpastian seputar pasar terutama untuk komoditas bahan bakar dan minyak.
Isu kedua yang disoroti Satu Kahkonen adalah kebijakan fiskal kuratif sangat penting untuk menavigasi ketidakpastian global saat ini.
“Kebijakan fiskal di Indonesia, salah satunya perpajakan yang baru melalui reformasi perpajakan yang terus-menerus diperkenalkan dalam harmonisasi perpajakan akan memberikan ruang yang baik untuk investasi juga SDM, serta memungkinkan ekspansi bantuan sosial,” jelasnya.
Ketiga, adalah pentingnya reformasi struktur untuk mendorong potensi pertumbuhan Indonesia.
“Indonesia sudah berada didepan dalam hal ini Reformasi salah satunya melalui Omnibus Law, UU Cipta kerja, dan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan dan undang-undang transfer fiskal Pemerintah,” imbuh Satu Kahkonen.
Sementara itu Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen di tahun 2022 ini. Pertumbuhan ekonomi itu didukung oleh dibukanya kembali perekonomian pasca pandemi Covid-19 serta naiknya harga-harga komoditas.
2 Komentar