Bersyukur Tik Tok Shop Ditutup, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai

JAKARTA – Bersyukur Tik Tok Shop Ditutup, Pasar Tanah Abang Kembali Ramai. Sejak ada Tik Tok Shop transaksi barang di pasar Tanah Abang memang menurun drastis. Sebab harga yang dijual Tik Tok Shop jauh dibawah harga eceran. Bahkan ada yang sampai dibawah harga produksi. Isu Tik Tok Shop melakukan politik dagang dumping sempat merebak.

Kini, aktivitas jual-beli di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, terlihat mulai banyak pengunjung usai TikTok Shop ditutup pekan lalu. Salah seorang penjual daster di Blok A lantai 2, Nuraini (40), mengatakan jumlah pengunjung mulai mengalami kenaikan usai TikTok Shop ditutup.

Ia merasa jumlah pelanggan dari daerah mulai kembali berdatangan karena lebih milih belanja online yang lebih murah dan bisa dilakukan dari mana saja.

“Sudah rada mendingan sih kelihatan ada yang datang, dari daerah-daerah ada banyak sih. Tadinya kan (pengunjung) dari daerah juga nggak ada, yang dekat-dekat juga nggak ada. Pikir kali kalau online gitu gampang kali dari rumah, lebih murah katanya,” kata Nuraini, Rabu (11/10/2023).

Menurutnya kondisi sangat berbeda jauh dengan minggu-minggu sebelumnya saat TikTok Shop masih beroperasi. Ia bahkan mengaku sebelumnya kerap tidak mendapat pembeli sama sekali.

“Kalau kemarin kan, yang biasa rame juga sepi banget. Orang yang lewat aja nggak ada. Nggak ada sama sekali yang lewat, kita gini-gini aja. Kadang malah nggak laris,” tuturnya.

Baca Juga:   Kementan Tingkatkan Kompetensi SDM Pertanian Melalui Genta Organik dan Smart Farming, Integrated Farming Berkelanjutan

Nuraini mengaku sebelumnya ia paling-paling hanya bisa membawa pulang Rp 100 ribu dalam sehari. Namun mulai minggu ini penjualannya mulai meningkat. Bahkan untuk hari ini saja ia mengaku sudah mendapat lebih dari Rp 700 ribu.

“Kemarin-kemarin kan minggu aja aku buka nggak ada orang, laris cuma Rp 100 ribu kadang-kadang nggak dapet, pengin nangis juga sih. Kalau hari ini lumayan sih tadi orang lewat banyak. Dapet sih hari ini Rp 700 lebih,” pungkas Nuraini.

Meski begitu kondisi ini ternyata tidak berlaku untuk semua pedagang di pasar. Hal ini seperti yang dirasakan Hermawan (51) selaku pedagang baju koko lantai dasar blok B Pasar Tanah Abang yang masih sepi pembeli.

Ia mengaku hingga saat ini belum merasakan imbas ditutupnya TikTok Shop. Menurutnya kondisi ini terjadi karena adanya penurunan daya beli masyarakat, bukan semata-mata karena kalah saing dengan TikTok Shop.

“Sebetulnya (kondisi pasar) masih sama aja. Nggak terlalu signifikan, soalnya menurut saya sih daya beli yang turun. Sebab bukan di sini aja, saya lihat di daerah juga sama (masih sepi pembeli),” kata Hermawan.

Hermawan menjelaskan Pasar Tanah Abang merupakan pasar grosir. Artinya sebagian besar pengunjung merupakan para pedagang yang membeli produk dalam jumlah banyak untuk dijual lagi.

Baca Juga:   Melalui Pertanian Ramah Lingkungan, Kementan Tingkatkan Produktivitas

Saat toko-toko milik para pedagang ini sepi pembeli karena adanya penurunan daya beli, barulah para pedagang di Pasar Tanah Abang baru merasakan dampaknya.

“Kalau di sini kan orang kebanyakan beli kan partai besar ya, waktu toko-toko nggak beli baru berasa. Orang lain mungkin setahun yang lalu (sepi pembeli). Kayanya seperti itu daya belinya. Sebab bukan di sini aja, di daerah sama,” jelasnya.

Karenanya Hermawan mengaku omzet penjualannya masih loyo dibandingkan tahun lalu. Menurutnya penjualan baju koko miliknya masih mengalami penurunan hingga 50%. “Kalau dihitung sih dengan tahun lalu kan 50% drop-nya. Sehari-hari ya kalau dulu hari biasa aja di atas Rp 5 juta. Sekarang dapat Rp 4 juta aja sudah luar biasa,” ungkap Hermawan.(SW)