Di Jepang hanya 25 persen dari total seluruh negaranya yang digunakan untuk lahan pertanian. Tapi mereka mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, ekspor dan yang terpenting menyejahterakan masyarakatnya,” kata Mentan Syahrul.

Ia meminta peserta magang saat nanti kembali ke Indonesia dapat mengimplementasikan segala hal yang didapat di Jepang. “Ilmunya, etos kerjanya, teknologinya, terapkan nanti di Indonesia,” ucap Mentan Syahrul.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, menjabarkan bahwa program magang luar negeri merupakan salah satu cara yang ditempuh Kementan melalui BPPSDMP untuk membangun petani-pengusaha milenial yang profesional, berdaya saing, dan berjiwa wirausaha.

“Tentu ini adalah upaya kita sebagai solusi untuk mengantisipasi jumlah petani kolotnial (istilah untuk petani generasi tua) yang jauh lebih banyak, yakni sebesar 71 persen. Sementara sisanya sebanyak 29 persen petani milenial,” kata Dedi.

Mendukung hal tersebut, Polbangtan Yogyakarta Magelang (YoMa) pun membekali calon peserta magang dengan melaksanakan pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang dimulai sejak akhir Desember 2022 secara hybrid dengan pengajar dari pihak Persol Jepang dan pendamping dari Indonesia.