Pengacara Bharada E Sebut Sambo Mengelak, Itu Biasa

JAKARTA – Pengacara Bharada E Ronny Talapessy mengatakan hal biasa kalau tersangka utama mengelak. Ferdy Sambo pun pasti mengelak atas tuduhan memerintahkan menembak Brigadir J. Menurut Ronny bukti-bukti ada dan pengakuan Bharada E sudah melalui alat uji kebohongan.

Bharada E sudah menyatakan bahwa Sambo memerintahkannya menembak Yosua (Brigadir J), bukan menghajar seperti pengakuan Ferdy Sambo lewat pengacara Putri Candrawathi, Febri Diansyah.

Ronny Talapessy, mengatakan kliennya telah mengungkapkan kronologi dan fakta kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.

“Bahwa berdasarkan keterangan klien kami RE dalam BAP sudah mengungkapkan kronologis dan fakta bahwa FS memerintahkan RE untuk melakukan penembakan kepada J, dan sebelumnya FS juga memerintahkan RR (Ricky Rizal) untuk melakukan penembakan kepada J,” kata Ronny kepada wartawan, Rabu (12/10).

Menurut Ronny pengakuan Bharada E ada kesesuaian dengan pengakuan RR. Sementara terhadap pengakuan Ferdy Sambo, RR mengaku tidak tahu.

Ronny menegaskan perintah Ferdy Sambo kepada Bharada E bukanlah untuk menghajar, melainkan memerintahkan untuk menembak Brigadir J.

“Jadi perintahnya FS bukan menghajar, tapi penembakan kepada J. Terkait pernyataan pengacara FS, itu sah-sah saja, kita kuasa hukum RE akan membuktikannya sesuai fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan,” tuturnya.

Pernyataan Febri itu juga berbeda dengan hasil penyelidikan yang terungkap dalam video animasi reka adegan pembunuhan Yosua yang dirilis Polri. Dalam video itu, Sambo memerintahkan Bharada menembak.

Dalam video yang dilihat, Rabu (31/8), sebelum peristiwa penembakan, Ferdy Sambo mulanya bicara dengan Yosua. Sambo menyebut Yosua tega.

“Kamu tega sekali sama saya, kurang ajar sekali kamu sama saya,” kata Ferdy Sambo dalam video animasi yang dirilis Polri.

Baca Juga:   Pengacara Bharada E Siapkan Sejumlah Saksi Meringankan

Saat Sambo berbicara dengan Yosua, di sana ada Richard, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf. Setelah bicara dengan Yosua, Sambo kemudian memerintahkan Richard untuk menembak Yosua.

“17.12.00 WIB FS teriak kepada RE ‘Woy kamu tembak, kau tembak cepat, cepat woy, kau tembak,” ujar Ferdy Sambo.

Setelah diteriaki Sambo, Richard kemudian menembak Yosua sebanyak tiga atau empat kali. Salah satu titik yang ditembak adalah dada sebelah kanan dan di area wajah Yosua hingga Yosua jatuh telungkup di samping tangga depan gudang rumah Sambo.

Setelah Yosua terkapar, masih di waktu yang sama, Ferdy Sambo menembak Yosua. Dalam video itu terlihat Sambo menembak kepala bagian belakang Yosua.

Setelah itu, Sambo menembak ke arah tembok tangga dan lemari untuk mengelabui seolah-olah terjadi tembak-menembak. Padahal peristiwa tembak-menembak itu tidak ada.

Sementara itu Bripka Ricky Rizal (RR), yang ada di lokasi penembakan Brigadir Yosua, mengaku tak tahu menahu soal perintah ‘hajar Chard’.

“Nggak tahu, nggak mungkin juga (Ricky) menolak untuk panggil (Eliezer) ke atas, ‘kamu tolong panggil si Richard’. Tapi kan dia masih galau di bawah kan. Nunggu, apa gimana,” kata pengacara Ricky, Erman Umar, kepada wartawan, Kamis (13/10/2022).

Saat itu, Ricky memang awalnya diperintahkan Ferdy Sambo menembak Yosua tapi menolak. Pada akhirnya, Eliezer-lah yang diperintah Ferdy Sambo.

“Yang rasionalnya, namanya pangkat bawah walaupun terguncang kan, walau (Putri Candrawathi) merasa dilecehkan kan. Toh iya apa benar, kan pasti ada klarifikasi atau apa. Makanya si Rizal nggak bisa ngomong ke siapa-siapa lagi karena takut salah pengertian lagi, dia lagi nanti yang dihajar sama ajudan yang lain,” katanya.

Baca Juga:   Firli Abaikan Permohonan Kapolri, Tetap Copot Brigjen Endar

“‘Tadi Bapak nyuruh saya menembak, sekarang si Richard’, apa nggak terjadi keguncangan nanti di lingkungan ajudan kalau terjadi itu? Apa nggak, membahayakan Ricky Rizal dong kalau ketahuan sama Sambo,” tambahnya.

Selanjutnya, Erman menilai pembunuhan bakal dilakukan di tempat yang jauh, bukan di rumah dinas, jika direncanakan secara rasional. Dia menegaskan kliennya tidak membantu Ferdy Sambo dalam membunuh Yosua.

“Karena dia masih berpikir rasional ya, nggak mungkinlah, apalagi di rumah. Kalau toh, kita pasti berpikir mau bunuh di mana sih dibunuh? Pasti di tempat yang jauh, yang sepi, kalau normallah. Masa di rumah dinas? Nggak berpikir rasionalnya itu,” ujarnya.

“Saya bertahan, bahwa apa yang dilakukan Ricky karena bukan membantu, ikut-ikut. Dia kan malah menolak, itu kan suatu sikap. Tapi kan dia nggak bisa nasihatin bosnya karena relasi kuasa. Itu suatu hal yang tegas bahwa dia tidak mau menghilangkan nyawa temannya,” tambahnya.(SW)