Tiga Oknum TNI Sadis Pemeras, Penganiaya dan Pembunuh Imam Masykur Mulai Disidangkan

JAKARTA – Oditur militer menampilkan sejumlah barang bukti kasus pembunuhan berencana Imam Masykur dengan terdakwa Praka Riswandi Manik, Praka Heri Sandi, dan Praka Jasmowir. Salah satu bukti yang ditampilkan ialah video yang menampilkan tubuh Imam Masykur penuh luka.

Barang bukti ini ditampilkan saat sidang pemeriksaan saksi di Pengadilan Militer Dilmil II-08, Jakarta, Kamis (2/11/202). Setelah mendengarkan keterangan saksi, oditur meminta izin kepada majelis hakim untuk menampilkan barang bukti.

Ibunda Imam Masykur, Fauziah, yang menjadi saksi, langsung berdiri saat melihat video ditayangkan. Majelis hakim mempersilakan Fauziah menunggu di luar ruangan.

Berdasarkan pantauan, terdapat dua video yang ditampilkan oditur militer pada layar di dalam ruang sidang. Video pertama merupakan CCTV yang menampilkan suasana di depan salah satu rumah.

Video lainnya memperlihatkan tubuh Imam Masykur yang penuh luka. Dalam video, Imam Masykur juga terdengar berbicara sambil menangis.

Sepupu Imam, Said Sulaiman, mengatakan Imam Masykur berbicara dalam bahasa Aceh di video itu. Dia mengatakan Imam Masykur meminta adiknya mengirimkan uang Rp 50 juta.

“Dalam bahasa Aceh, ‘Dek, bilang mama kirim uang Rp 50 juta’,” kata Said.

Selain itu, barang bukti lain yang ditampilkan ialah sepatu PDL milik terdakwa, sepatu olahraga milik terdakwa, tas dada berwarna hitam, empat HT, tiga senjata airsoft gun, satu korek api berbentuk pistol, dua HP, hingga pakaian korban.

Ibunda Imam Masykur, Fauziah, mengatakan dirinya memilih ke luar ruang sidang karena tidak sanggup melihat kondisi anaknya.

“Ibu tidak sanggup melihat video. Dari suaranya pun sudah tahu kayak gimana cara pukulnya, saya rasakan seorang ibu bagaimana perasaan anaknya. Makanya Ibu tidak melihat,” tuturnya.

Baca Juga:   PPATK Akui Banyak Aliran Dana Mencurigakan ke Penegak Hukum

Sebelumnya, Praka Riswandi Manik, Praka Heri Sandi, dan Praka Jasmowir didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Imam Masykur. Mereka juga didakwa menganiaya dan menculik Imam Masykur.

Sidang digelar di Pengadilan Militer Dilmil II-08, Jakarta Timur, Senin (30/10). Ketiganya merupakan personel Paspampres.

“Kesatu primer Pasal 340 KUHP juncto Pasal 55 (1) ke-1 KUHP, secara bersama-sama melakukan pembunuhan berencana, subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 (1) ke-1 KUHP, secara bersama-sama melakukan pembunuhan,” kata Oditur Militer membacakan dakwaan.

“Lebih subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP juncto Pasal 55 (1) ke-1 KUHP, secara bersama-sama melakukan penganiayaan mengakibatkan mati, dan Pasal 328 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, secara bersama-sama melakukan penculikan,” lanjutnya.

Mereka disebut melakukan pembunuhan berencana pada 12 Agustus 2023. Imam Masykur disebut sebagai penjaga toko kosmetik di daerah Rempoa, Tangerang Selatan, Banten, dan diduga menjual obat-obatan golongan G (obat keras) secara ilegal.

Sementara saksi bernama Khaidar mengatakan sempat disekap dan dipukuli oleh oknum TNI terdakwa kasus pembunuhan Imam Masykur. Dia mengatakan dirinya juga dicambuk dengan kabel oleh terdakwa.

Hal itu disampaikan Khaidar saat menjadi saksi dalam sidang kasus pembunuhan Imam dengan terdakwa Praka Riswandi Manik, Praka Heri Sandi, dan Praka Jasmowir di Pengadilan Militer Dilmil II-08, Jakarta, Kamis (2/11/202). Khaidar mengaku ditonjok hingga dicambuk.

Khaidar mengatakan merupakan penjaga toko obat yang ikut menjadi korban penyekapan dan pemerasan oleh ketiga oknum TNI tersebut. Khaidar mengatakan Riswandi dkk sempat memintanya menelepon bos tempatnya bekerja untuk memberikan uang tebusan Rp 50 juta dengan ancaman dipukuli jika tak menyerahkan uang.

Baca Juga:   Pihak David Sebut KPAI Cenderung Terlalu Membela Pelaku Ketimbang Korban

“Katanya, ‘Kalau kamu nggak punya duit, dipukul saja’. Yang bicara sebelah saya,” ujar Khaidar.

Khaidar juga mengaku dipukul pada bagian wajahnya. Namun dia mengaku tidak mengetahui siapa yang memukul karena matanya ditutup dengan kaus saat peristiwa terjadi pada Agustus lalu.

“Nggak paham siapa yang mukul, nggak kenal, yang jelas ada yang mukul, pertama dipukul, mengepal, itu orang yang kiri lebih dulu mukul. Ditonjok di muka,” kata Khaidar.

Oditur lantas mempertanyakan sikap Khaidar saat mendapatkan pukulan. Khaidar mengaku tidak berani melawan.

“Sakit?” kata oditur.

“Sakit,” jawab Khaidar.

“Nangis?” tanya oditur.

“Nggak,” jawab Khaidar.

“Berapa lama dipukuli?” tanya oditur.

“Sekitar 3 menit,” ujar Khaidar.

Dia mengaku hanya bisa menahan sakit. Khaidar khawatir dirinya bakal dipukuli lebih parah jika melawan.

“Apa yang Saksi lakukan? Membela diri?” tanya oditur.

“Saya cuma ‘Aduh’ doang, takutnya lebih parah lagi kalau saya berontak,” ujar Khaidar.

Selain itu, Khaidar mengaku dicambuk. Dia mengaku dicambuk dengan kabel.

“Dicambuk saya, waktu itu agak gelap tapi seperti kabel listrik warna putih. Kurang tahu saya. Soalnya nggak terlihat jelas,” tuturnya.(SW)