Pakar hukum tata negara Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar, mendesak pembukaan ruang publik untuk memperkuat budaya literasi dan daya kritis masyarakat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Pesta Literasi Indonesia 2026 di Semarang, Jawa Tengah, pada Sabtu (12/9/2026).
Di sisi lain, Radio Republik Indonesia (RRI) berkomitmen memperkuat perannya sebagai media publik melalui transformasi digital. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi di usia lembaga yang ke-81.
Zainal Arifin Mochtar menekankan bahwa ruang publik tidak terbatas pada tempat fisik untuk berkumpul, melainkan mencakup ruang nonfisik untuk bertukar gagasan dan pengetahuan. Ia menyoroti kecenderungan penyempitan ruang publik di negara yang tidak demokratis serta dominasi fasilitas kebugaran berbayar yang membatasi akses masyarakat luas.
Transformasi Layanan Publik
Sementara itu, RRI terus memperkuat kehadiran di berbagai platform digital sebagai bagian dari strategi multiplatform. Kepala Stasiun LPP RRI Manokwari, James Awaeh, menyatakan bahwa transformasi infrastruktur dan tata kelola menjadi kebutuhan agar lembaga tetap relevan bagi publik.
Data menunjukkan portal rri.co.id mencatat 78,51 juta pengunjung sepanjang tahun 2025. Selain itu, aplikasi RRI Digital telah menjangkau 337.195 pengguna dengan total 6,3 juta kunjungan, yang mencerminkan pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat saat ini.




