kabarfaktual.com – Republik Islam Iran kembali menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang agen intelijen Israel yang beroperasi secara rahasia di dalam negeri. Terpidana bernama Ali Ardastani dieksekusi pada Rabu dini hari, 7 Januari 2026, setelah seluruh tahapan hukum dinyatakan tuntas.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Ardastani dinyatakan bersalah karena terbukti menyampaikan informasi rahasia dan sensitif milik negara kepada badan intelijen Israel, Mossad. Putusan tersebut didasarkan pada serangkaian dokumen peradilan, bukti pendukung, serta pengakuan langsung dari yang bersangkutan.

Menurut laporan Mmehrnews, Ardastani direkrut Mossad melalui jalur daring. Ia dijerat dengan iming-iming finansial serta berbagai janji yang kemudian terbukti sebagai modus perekrutan. Kantor berita resmi IRNA menyebutkan, selama menjalankan tugasnya, Ardastani beroperasi di bawah arahan langsung petugas Mossad.

Dalam praktiknya, ia mengirimkan foto, video, dan citra lokasi tertentu, termasuk informasi mengenai individu-individu yang menjadi target. Setiap misi yang diselesaikan dibayar menggunakan mata uang kripto. Ardastani juga diketahui beberapa kali melakukan pertemuan tatap muka dengan perantara Mossad di sejumlah wilayah Iran untuk menyerahkan data dan menerima instruksi lanjutan.

Selama proses penyidikan hingga persidangan, Ardastani mengakui sepenuhnya bahwa dirinya menyadari komunikasi langsung dengan perwira Mossad dan dengan sengaja membocorkan informasi strategis kepada Israel.

Di sisi lain, pejabat Israel yang dikutip oleh Times of Israel pada Kamis (8/1/2026) menuding Iran juga melakukan upaya masif merekrut mata-mata di wilayah Israel, terutama dengan menawarkan imbalan uang tunai. Selain itu, kelompok peretas yang dikaitkan dengan Iran mengklaim telah membobol perangkat komunikasi sejumlah pejabat Israel, termasuk mantan Perdana Menteri Naftali Bennett serta kepala staf Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Perburuan Jaringan Mossad di Iran

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel dilaporkan meningkatkan aktivitas spionasenya terhadap Iran. Mmehrnews mencatat bahwa Mossad menggunakan berbagai metode, mulai dari perekrutan warga Iran melalui media sosial, manipulasi finansial, hingga pembentukan sel tidur untuk aksi sabotase.

Aktivitas intelijen tersebut juga mencakup pengumpulan data dari fasilitas strategis, serta keterlibatan dalam operasi pembunuhan terhadap ilmuwan dan perwira militer Iran. Untuk menjalankan misinya, Mossad mengandalkan teknologi canggih, perantara lokal, serta jaringan rahasia lintas wilayah.

Namun, otoritas Iran mengklaim banyak dari upaya tersebut berhasil digagalkan. Lembaga-lembaga keamanan Iran termasuk Kementerian Intelijen dan Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah mencatat sejumlah keberhasilan signifikan dalam operasi kontraintelijen.

Sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, beberapa individu yang diduga memiliki keterkaitan dengan Mossad ditangkap dan diproses secara hukum. Hukuman mati, menurut pejabat Iran, dijalankan setelah memperoleh pengesahan Mahkamah Agung dan dimaksudkan sebagai peringatan keras bagi intelijen musuh.

Dalam perkembangan terbaru, kepolisian Teheran juga mengamankan seorang agen yang diduga berhubungan langsung dengan Mossad di tengah aksi kerusuhan. Selain itu, aparat keamanan berhasil membongkar sejumlah jaringan tersembunyi dan sel perantara di Teheran serta beberapa provinsi lain.

Iran menegaskan bahwa koordinasi antar-lembaga, kewaspadaan tinggi, serta kemampuan kontraintelijen yang terus diperkuat telah berhasil menetralisasi berbagai ancaman, meskipun Mossad berupaya memanfaatkan perekrutan virtual dan jalur keuangan rahasia.

Pemerintah Iran menilai bahwa tekanan eksternal justru memperkuat sistem keamanannya. Otoritas setempat menegaskan, setiap upaya yang mengancam stabilitas dan keamanan nasional akan dihadapi dengan respons tegas dan konsekuensi berat, sebagai cerminan ketahanan aparat intelijen dan keamanan negara tersebut.