kabarfaktual.com – Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih bergerak fluktuatif sepanjang pekan terakhir Mei 2026. Ketidakpastian geopolitik global, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, tren harga emas masih berpotensi menguat apabila tensi geopolitik global terus meningkat dan permintaan aset safe haven kembali melonjak. Bahkan, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan berpeluang menembus Rp 2,9 juta per gram jika penguatan emas dunia berlanjut.

“Kalau seandainya emas dunia menguat, resistance pertama itu di 4.606 dollar AS per troy ounce, kemudian logam mulia domestik bisa di Rp 2.797.000 per gram. Kemudian resistance kedua di 4.943 dollar AS per troy ounce, logam mulia berpotensi di Rp 2.900.000 per gram,” ujar Ibrahim, Minggu (24/5/2026).

Harga Emas Dunia Melemah

Meski prospek penguatan masih terbuka, harga emas dunia justru melemah pada perdagangan Sabtu (23/5/2026) waktu New York. Pelemahan terjadi setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed.

Sentimen tersebut muncul usai Gubernur The Fed Christopher Waller memberi sinyal potensi kenaikan suku bunga di tengah risiko inflasi akibat konflik geopolitik, termasuk perang di Iran.

Mengutip Bloomberg, harga emas spot turun 0,8 persen menjadi 4.508,75 dollar AS per troy ounce pada pukul 15.47 waktu New York. Sementara harga perak terkoreksi 1,4 persen menjadi 75,61 dollar AS per troy ounce. Harga platinum dan paladium juga mengalami pelemahan.

Menurut Ibrahim, apabila tekanan jual masih berlanjut, maka level support pertama harga emas dunia diperkirakan berada di 4.414 dollar AS per troy ounce. Pada level tersebut, harga logam mulia domestik diproyeksikan turun sekitar Rp 20.000 menjadi Rp 2.753.000 per gram.

Namun jika penurunan berlanjut hingga support berikutnya di level 4.333 dollar AS per troy ounce, harga logam mulia berpotensi turun lebih dalam ke kisaran Rp 2.650.000 per gram.

Konflik Rusia-Ukraina dan Timur Tengah Jadi Sentimen Utama

Ibrahim menjelaskan, salah satu faktor terbesar yang mendorong volatilitas harga emas saat ini adalah memanasnya kembali konflik geopolitik global, terutama perang Rusia dan Ukraina.

Serangan Ukraina terhadap sejumlah wilayah Rusia, termasuk kawasan infrastruktur energi dan kilang minyak, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi tersebut membuat investor global kembali memburu aset aman seperti emas.

Selain konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait stabilitas kawasan serta pembukaan Selat Hormuz masih berlangsung, namun belum menunjukkan kepastian.

Di sisi lain, serangan Israel ke Lebanon Selatan dan Jalur Gaza juga memperbesar ketidakpastian geopolitik kawasan. Situasi tersebut membuat permintaan terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai tetap tinggi.

Harga Minyak Mentah Diprediksi Menguat

Tak hanya emas, harga minyak mentah dunia juga diperkirakan masih bergerak naik. Ibrahim memperkirakan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada pada kisaran support 92,600 dollar AS per barrel dan resistance 105,500 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga minyak global turut memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Indonesia yang masih mengimpor sekitar 1,5 juta barrel minyak per hari dinilai rentan terhadap penguatan dolar AS dan lonjakan harga energi dunia.

“Setiap kenaikan 1 dollar AS per barrel diasumsikan menambah beban sekitar Rp 4 triliun,” jelas Ibrahim.

Pasar Menanti Arah Kebijakan Baru The Fed

Pelaku pasar global kini juga menantikan arah kebijakan moneter terbaru setelah Kevin Walsh resmi dilantik sebagai Gubernur The Fed dan dijadwalkan memimpin rapat kebijakan pasar terbuka pada Juni mendatang.

Sebagian pejabat The Fed masih cenderung mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi. Namun, pernyataan Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin yang menyebut inflasi jangka panjang masih terkendali memberi harapan adanya peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun.

Selain faktor suku bunga, tingginya permintaan emas dari bank sentral dunia juga dinilai menjadi penopang harga logam mulia. Ketika harga emas terkoreksi, sejumlah bank sentral disebut justru meningkatkan pembelian emas sebagai cadangan dan instrumen lindung nilai.

Dengan kombinasi sentimen geopolitik, arah kebijakan suku bunga AS, serta pergerakan dolar dan minyak mentah, harga emas diperkirakan masih akan bergerak sangat dinamis dalam beberapa waktu ke depan.