kabarfaktual.com – Komando militer Iran dari Markas Besar Khatam al-Anbiya memperingatkan akan mengambil tindakan tegas jika Amerika Serikat terus melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita Tasnim News Agency dan dikutip oleh Al Jazeera pada Sabtu (25/4/2026).
Dalam keterangannya, komando militer Iran menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan respons keras terhadap setiap bentuk tekanan militer.
“AS akan menghadapi reaksi dari angkatan bersenjata Iran yang tangguh,” demikian pernyataan tersebut.
Militer Iran menyatakan terus memantau pergerakan pasukan AS di kawasan Teluk Persia. Selain itu, Iran juga menegaskan kontrol strategisnya atas Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
“Kami siap dan bertekad, sambil memantau perilaku dan pergerakan musuh di kawasan ini serta mengelola dan mengendalikan Selat Hormuz yang strategis,” ujar pihak militer.
Iran juga menyatakan bahwa kontrol tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan tekanan terhadap musuh jika terjadi eskalasi lebih lanjut.
Dalam pernyataan yang sama, militer Iran menegaskan bahwa kekuatan angkatan bersenjata mereka kini lebih siap dibanding sebelumnya, baik untuk pertahanan maupun serangan.
Mereka juga menyebut pengalaman dalam konflik sebelumnya sebagai bukti kesiapan militer, termasuk dalam apa yang mereka sebut sebagai “perang yang dipaksakan”.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei-Nik, menyatakan bahwa sebagian besar kemampuan rudal Iran belum dikerahkan secara penuh dalam konflik melawan AS.
Menurutnya:
- Iran berhasil mempertahankan keunggulan selama konflik
- Hanya sebagian kekuatan rudal yang digunakan dalam perang selama 40 hari
- Pasukan Iran mengklaim memiliki superioritas udara di wilayah konflik
Ia juga mengklaim bahwa kapal perang lawan beberapa kali mundur hingga ratusan kilometer dari Laut Oman sebagai respons terhadap tindakan militer Iran.
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah meningkat sejak pecahnya konflik pada 28 Februari 2026.
Akibatnya, jalur pelayaran di Selat Hormuz mengalami gangguan serius. Kondisi ini berdampak langsung pada:
- Distribusi minyak global
- Stabilitas pasar energi
- Kekhawatiran terhadap ekonomi dunia
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara.
Situasi di kawasan Teluk Persia saat ini masih sangat dinamis. Ancaman respons militer dari Iran menambah kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, terutama jika blokade dan tekanan militer terus berlanjut.
Pengamat menilai, stabilitas kawasan dan keamanan jalur energi global kini sangat bergantung pada perkembangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Tinggalkan Balasan