kabarfaktual.com – Samsung menghadirkan pendekatan baru pada lini ponsel lipatnya melalui Galaxy Z Fold 8. Berbeda dari generasi sebelumnya, perangkat ini mengusung desain bergaya passport style dengan rasio layar yang lebih mendekati 4:3, sehingga menawarkan pengalaman penggunaan yang berbeda dibandingkan Galaxy Z Fold 8 Ultra yang tetap mempertahankan desain memanjang.

Perubahan desain tersebut sempat memunculkan berbagai pertanyaan sejak pertama kali diperkenalkan. Namun, setelah menjajal perangkat secara langsung di London, Inggris, sejumlah YouTuber teknologi asal Indonesia menilai langkah Samsung berhasil menghadirkan karakter baru pada lini Galaxy Fold.

YouTuber BestInDotech, Malvin Nathaniel, mengatakan perubahan desain Galaxy Z Fold 8 bukan sekadar pembaruan tampilan, melainkan dirancang untuk memberikan pengalaman penggunaan yang lebih fungsional.

“Layar depannya lebih compact untuk penggunaan dua tangan. Kalau butuh layar lebih besar tinggal dibuka. Jadi menurut saya desainnya sangat intentional, masing-masing form factor punya tujuan sendiri,” ujar Malvin di London, Jumat (24/7/2026).

Pendapat serupa disampaikan Mouldie Satria Eka dari kanal SobatHape. Menurutnya, rasio layar baru membuat pengalaman menikmati konten multimedia menjadi lebih nyaman dibandingkan model Fold dengan layar memanjang.

“Black bar atas bawah waktu nonton jadi jauh lebih sedikit dibanding versi Ultra. Rasio layarnya memang dibuat untuk media consumption,” kata Mouldie.

Ia juga menilai Galaxy Z Fold 8 tetap nyaman digunakan sebagai ponsel harian karena dimensinya masih ringkas saat dalam posisi terlipat.

Sejumlah kreator juga menyoroti peningkatan pengalaman menikmati berbagai jenis konten, mulai dari video, komik digital, hingga permainan.

Mohamad Fahmi dari Droidlime menilai rasio layar baru lebih sesuai dengan format video modern, sehingga tampilan video YouTube berformat 16:9 terlihat lebih optimal.

“Kalau nonton YouTube terasa lebih pas. Rasio layarnya cocok, jadi area hitam di layar tidak terlalu mengganggu,” ujarnya.

Sementara itu, Putu Reza dari Project Review menilai Galaxy Z Fold 8 menawarkan pengalaman berbeda bagi pengguna yang gemar bermain gim, membaca manga, maupun menonton video.

“Gue suka main game, suka baca komik, dan nonton. Rasio baru ini pas buat semuanya,” kata Putu.

Menurutnya, desain baru tersebut menjadi pembeda yang selama ini belum dimiliki lini Galaxy Fold.

Para pengulas juga sepakat Galaxy Z Fold 8 tidak dapat dipandang sebagai versi lebih murah dari Galaxy Z Fold 8 Ultra. Menurut mereka, Samsung sengaja menghadirkan dua perangkat dengan karakter yang berbeda.

Galaxy Z Fold 8 Ultra diposisikan sebagai perangkat yang berfokus pada produktivitas dan kemampuan kamera, sedangkan Galaxy Z Fold 8 lebih ditujukan bagi pengguna yang mengutamakan pengalaman menikmati konten multimedia.

Mouldie mengaku sempat mengira akan lebih memilih Galaxy Z Fold 8 Ultra. Namun setelah mencoba Galaxy Z Fold 8 selama beberapa hari, pandangannya berubah.

“Saya malah jadi kepikiran pre-order. Bahkan sekarang jadi jarang pegang yang Ultra,” ujarnya.

Di sektor fotografi, para YouTuber mengakui Galaxy Z Fold 8 memang tidak dibekali kemampuan kamera setinggi model Ultra. Perangkat ini tidak memiliki kamera telefoto dengan zoom optik 5x dan zoom digital hingga 100x untuk foto maupun 25x untuk video seperti yang tersedia pada Galaxy Z Fold 8 Ultra.

Meski demikian, mereka menilai kualitas kamera Galaxy Z Fold 8 masih mampu memenuhi kebutuhan pengguna ponsel kelas flagship. Mouldie mengatakan sensor utama 50 MP yang dipadukan dengan teknik cropping hingga pembesaran 5x masih menghasilkan foto yang memuaskan.

“Ternyata bisa mengobati kebutuhan telefoto,” katanya.

Secara keseluruhan, para pengulas menilai Samsung berhasil menghadirkan identitas baru pada lini Galaxy Fold. Galaxy Z Fold 8 dinilai bukan sekadar alternatif dengan harga lebih terjangkau dari versi Ultra, melainkan perangkat flagship yang memiliki segmentasi dan karakter tersendiri.

Putu Reza menilai strategi tersebut membuat lini ponsel lipat Samsung menjadi lebih segar.

“Samsung akhirnya mengeluarkan sesuatu yang fresh. Spesifikasinya juga tidak banyak dikorbankan. Baterainya lebih besar, chipset lebih kencang, layarnya enak buat multimedia. Menurut saya ini bukan untuk semua orang, tapi diferensiasinya sangat bagus,” ujar Putu.