Pendukung Masih Melimpah, Jokowi Bisa Jadi King Maker

JAKARTA – Pendukung Masih Melimpah, Jokowi Bisa Jadi King Maker. Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa menjadi king maker di Pilpres 2024. Hal ini dikarenakan pendukung Jokowi masih melimpah meski dia akan pensiun di 2024.

Dalam survei terbaru Indikator, 81 persen responden mengaku puas dengan kinerja Jokowi. Jumlah ini penggabungan dari jumlah responden yang mengaku sangat puas dan cukup puas atas kinerja Jokowi.

“Kinerja Presiden, kita dapati bahwa mayoritas menilai cukup puas dengan kinerja Jokowi ada 66,4 persen, kalau kita agregat total cukup puas dan sangat puas 14,8% ada 81 persenan,” kata Direktur Riset Indikator Politik Indonesia, Moch Adam Kamil, saat merilis hasil survei terbaru, Jumat (18/8/2023).

Berikut hasil survei kepuasan kinerja Jokowi:

– sangat puas: 14,8%
– cukup puas: 66,4%
– kurang puas: 16,1%
– tidak puas sama sekali: 1,8%
– tidak tahu/tidak jawab: 1,0%.

Kinerja Demokrasi

sangat puas: 4,2%
– cukup puas: 72,5%
– kurang puas: 17,4%
– tidak puas sama sekali: 1,8%
– tidak tahu/tidak jawab: 4,2%.

Hasil survei di atas merupakan survei pada 15 hingga 21 Juli 2023. Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Dalam survei ini jumlah sampel sebanyak 1.811 responden yang diwawancarai tatap muka langsung. Dengan asumsi metode simple random sampling, ukuran sampel 1.811 memiliki toleransi kesalahan (margin of error–MoE) sekitar ±2.35% pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh 38 provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

Baca Juga:   Terkait Isu Jokowi Gabung Golkar, JK: Tak Bisa Langsung Jadi Ketua Umum Loh!

Jokowi Bisa Jadi King Maker

Lebih lanjut, Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, Jokowi bisa menjadi king maker di Pilpres 2024. Hal ini dikarenakan nilai kepuasan Jokowi tinggi.

“Yang menarik buat kita, apa sih gunanya approval rating ini? Buat Presiden Jokowi yang tidak bisa maju lagi di Pilpres 2024, apasih fungsinya Presiden memiliki approval rating di saat secara konstitusional dia terhalang maju lagi, kita kan belakangan diskusi soal king maker. King maker itu baru bisa dimainkan oleh Jokowi, konteksnya dalam pertarungan 2024,” kata Burhanuddin.

Menurutnya, seseorang yang memiliki approval tinggi bisa menjadi king maker. Jika seorang presiden tidak memiliki itu, maka tidak bisa menjadi king maker.

“Jika seorang presiden punya approval tinggi, kalau Kita lihat di zaman SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) approval rating periode kedua cenderung turun dibanding pertama, soal nggak puas dan puas, itu di zaman SBY approval rating Pak SBY pernah 85%, bahkan di masa Pak Jokowi mencapai setinggi zaman Pak SBY Juli 2009, jadi dengan pengurukuran sama kita pernah temukan approval Pak SBY 80-85 persen,” katanya.

Baca Juga:   Gudang Peluru yang Meledak Diduga Karena Amunisi Kadaluwarsa

“Tapi dengan pengukuran sama pula pernah kita temukan juga tingkat kepuasan Pak SBY 45% di 2007, dan rata-rata 50 persen di 2 atau 4 tahun sebelum Pemilu 2014, jadi karena penurunan rating ini beliau Pak SBY tidak bisa jadi king maker, makanya Presiden yang menang bukan dar kubunya saat itu, dalam hal ini Pak Jokowi yang menang,” sambungnya.

Burhan mengatakan jika kepuasan masyarakat terhadap Jokowi turun, maka dimungkinkan semua orang akan menjauhi Jokowi.

“Sekarang karena approval Jokowi tinggi, Prabowo dan Ganjar kan rebutan pengaruh Pak Jokowi, jadi menurut saya melihat approval Pak Jokowi sepertinya sudah jelas 2024, bukan Ganjar, Prabowo, Anies. Tapi yang menang Pak Jokowi, tapi kalau approval rating Jokowi turun jelang 2024 semua orang akan menjauh dari Pak Jokowi,” katanya.(SW)