Wakil Ketua MPR Sebut Akan Hadir 2 Juta Orang di Aksi Bela Palestina

JAKARTA – Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengungkapkan jika Aksi Akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina yang rencananya akan digelar di Monumen Nasional (Monas), Minggu (5/11) besok sudah mendapatkan izin. Acara itu pun akan dihadiri kurang lebih 2 juta orang.

HNW bersyukur, aksi yang diprakarsai mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin tersebut mendapat dukungan dan sambutan dari berbagai kelompok dan ormas keagamaan.

“Kami mengundang berbagai kelompok masyarakat dan ormas lintas Agama, dan syukur mendapat sambutan yang baik,” tutur HNW dalam keterangannya, Jumat (3/11/2023).

“Rapat hari ini merupakan rapat kesekian kalinya dan kami mendapat dukungan sepenuhnya dari beragam kelompok masyarakat ada dari Pemuda, Mahasiswa, Wanita, Buruh, juga ormas dari seluruh ormas keagamaan,” sambungnya.

Aksi akbar yang akan digelar dikatakan HNW merupakan kelanjutan dari aksi-aksi yang sudah dilakukan. Seperti pada tanggal 28 Oktober sudah ada aksi serupa yang dilakukan di depan kedubes AS, aksi serupa juga dilakukan di berbagai masjid, kampus, kota, bahkan GKSB DPR RI yang diketuai oleh Syahrul Aidi Maazat.

“Kita apresiasi pemerintah yang sudah konsisten membela Palestina merdeka dan menuntut Israel menghentikan penjajahan dan kejahatan kemanusiaan terhadap Palestina atau Gaza, agar tegaklah keadilan dan perdamaian,” tambahnya.

HNW mengatakan jika nanti para peserta akan mengusung aksi damai. Pasalnya, mereka tak ingin melakukan kekerasan seperti yang Israel lakukan terhadap warga Palestina.

“Karena kita menolak kejahatan Israel maka pastilah kita tidak akan melakukan kejahatan seperti Israel yang lakukan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, HNW mengucapkan terima kasih kepada MUI yang telah menjadi panitia inti.

Baca Juga:   Perang Gaza Berlanjut Terus, PM Palestina Mundur

“Terima kasih juga kepada berbagai ormas keagamaan termasuk ormas kepemudaan, kewanitaan, dan organisasi buruh,” ucapnya.

“Ini akan menjadi pembuktian bahwa Indonesia tidak main-main dalam melaksanakan amanah konstitusi. Juga tidak main-main dengan komitmennya untuk menghadirkan perdamaian dan menolak segala bentuk penjajahan dan kejahatan kemanusiaan seperti yang dilakukan oleh Israel atas Palestina/Gaza/Masjid Al Aqsha,” ucap HNW.

HNW menuturkan rencana Aksi Akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina merupakan bentuk konsistensi Indonesia yang patuh pada konstitusi dan UUD NKRI Tahun 1945. UUD tersebut adalah amanah untuk menolak penjajahan dan komitmen ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Amanah UUD tersebut, menurut HNW ditafsirkan dan dioperasionalkan oleh Presiden Soekarno yang dengan tegas mengatakan jika masyarakat Indonesia adalah bangsa yang menolak segala bentuk penjajahan. Lebih khusus dalam masalah Palestina, Soekarno dengan lantang mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak penjajahan Israel.

Menurut HNW, penjajahan yang telah dilakukan Israel, membuat Soekarno tidak mau mengundang negara tersebut dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, juga tidak mengundangnya dalam Asian Games Tahun 1962 yang digelar di Jakarta.

“Bahkan Presiden Indonesia itu menyatakan selama kemerdekaan belum diberikan kepada Palestina maka selama itu juga Israel adalah penjajah, dan Indonesia tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel,” ujar HNW.

Saat Presiden Soekarno berkuasa, kondisi penjajahan atas Palestina belum separah seperti saat ini. Tanah jajahan yang dikuasai saat itu masih 60 persen, namun saat ini Israel sudah menjajah hampir 95 persen tanah Palestina.

Baca Juga:   Solidaritas Korban Penembakan, DKI Beri Warna Bendera New Zealand di JPO GBK

Kejahatan yang mereka lakukan sejak tahun 1948 telah melahirkan berbagai pelanggaran hukum internasional, tidak melaksanakan resolusi DK PBB, tragedi kemanusiaan, dan kejahatan perang. Misalnya, pada tahun 1969 Israel membakar Masjid Al Aqsha, dan belakangan mereka pernah menutup masjid itu sehingga umat Islam tidak bisa datang ke sana.

“Bahkan mereka sudah mengubah Masjidil Aqsha sehingga masjid suci itu lebih didominasi menjadi tempat peribadatan umat Yahudi,” tambah HNW.

HNW menyebut aksi kemanusiaan akbar yang akan digelar digelar di Monas nanti, akan melanjutkan peran-peran bersejarah yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina.

“Dibanding pada era Presiden Soekarno dahulu, saat ini Israel lebih luas menjajah tanah Palestina, lebih banyak melanggar HAM dan melakukan kejahatan kemanusiaan, serta lebih parah dalam melanggar hukum internasional,” tegasnya.

Kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Israel disebut semakin menjauhkan perdamaian dengan terwujudnya kemerdekaan Palestina dan malah semakin mengekalkan penjajahan Israel.

HNW menegaskan jika sudah sewajarnya bangsa Indonesia yang taat konstitusi dan cinta kemanusiaan baik dari kalangan Muslim dan non-Muslim, kini bersatu padu menggelar aksi akbar solidaritas membela Palestina merdeka dan menolak penjajahan Israel.(SW)